Seni Badud Pangandaran Bangkit Kembali

BANDUNG, PATROLI
seni badud

Seni badud dari Desa Margacinta Kec. Cijulang Kab. Pangandaran yang dikenal masyarakat sejak awal abad ke-20 mulai berkembang. Plt. Bupati Pangandaran, Endjang Naffandi besar perhatiannya terhadap seni budaya yang berkembang di daerahnya.
Menurut sejarahnya, seni badud selalu dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat ritual. Umpamanya, setiap ada gotong royong seni ini dimanfaatkan sebagai alat komukasi antar penduduk untuk berkumpul dan membicarakan gotong royong yang akan dilaksanakan bersama.
Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Olah Raga,  Dr. Erik mengemukakan, seni badud dulu selalu digunakan untuk acara ritual panen padi, tapi sekarang bisa diundang untuk acara hajatan.Mengenai alat-alat seninya, Erik menjelaskan, berupa 8 angkung, 6 dogdog beserta alat alat musik yang terbuat dari logam. Seperti kempul, kecrek dan genta/go'ong.
Awal mulanya, kata Erik, alat komunikasi untuk mengumpulkan masyarakat dalam acara gotong royong dilakukan menggunakan suara mulut "dog-dog eu", tapi sekarang sebagaimana sesepuh seni badud Ki Ardasim dan Ki Ijot, mulai memikirkan untuk mengubah pola komunikasi ini dengan membuat alat kesenian dengan menggunakan bambu yang dipukul seperti kentongan dengan berirama, sehingga masyarakat mulai mengenal seni itu sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan warga masyarakat.
Perkembangan selanjutnya, menurut Erik, kesenian badud lebih dikembangkan lagi dengan vokal atau nyanyian dalam bentuk sisindiran. Namun, untuk acara ritual panen seni Badud itu tetap digunakan sebagai tanda rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen yang melimpah.
Acara itu dimulai dari sawah untuk mengiringi hasil panen yang digotong oleh para petani menuju kampung dan disimpan di leuit warga. Sementara itu, kaum wanita menumbuk padi di lesung, sehingga berirama, dan munculah istilah gondang.
Sebelum hasil panen itu dimasukkan ke lumbung/ leuit, pemimpin upacara mengadakan ritual juga dengan "Kidung Pasisinglar Nyi Pohaci" dengan tujuan terhindar dari berbagai gangguan, seperti hama tatanen.
Erik berharap, seni badud bukan hanya berkembang di Kabupaten Pangandaran  atau di daerah Jawa Barat, juga nasional, tetapi bisa Go Internasional. (Elly)
Powered by Blogger.